Pada
dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yng melibatkan aktivitas mental
yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif
denganlingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan,
pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan
berbekas. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu
proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia.
Secara
umum, terdapat tiga macam teori belajar yang sudah dikenal, yakni: Teori
belajar Behavioristik, Teori Belajar Kognitif dan teori Belajar
Konstruktivistik. Pada pembahasan berikut, akan disampaikan pembahasan tentang
Teori Belajar Kognitif.
Prinsip-prinsip
Teori Belajar Kognitif
Teori
belajar kognitif menjelaskan belajar dengan memfokuskan pada perubahan proses
mental dan struktur yang terjadi sebagai hasil dari upaya untuk memahami dunia.
teori belajar kognitif yang digunakan untuk menjelaskan tugas-tugas yang
sederhana seperti mengingat nomor telepon dan kompleks seperti pemecahan
masalah yang tidak jelas.
Teori
belajar kognitif didasarkan pada empat prinsip dasar:
- Pembelajar
aktif dalam upaya untuk memahami pengalaman.
- Pemahaman
bahwa pelajar mengembangkan tergantung pada apa yang telah mereka ketahui.
- Belajar
membangun pemahaman dari pada catatan.
- Belajar
adalah perubahan dalam struktur mental seseorang.
Apakah Siswa
Aktif ?
Teori
belajar kognitif didasarkan pada keyakinan bahwa peserta didik aktif dalam
upaya untuk memahami bagaimana dunia bekerja, kepercayaan ini konsisten dengan
Piaget dan Vygotsky tentang pemandangan pengembangan pelajar. Pembelajar
melakukan lebih dari sekedar menanggapi. Mereka mencari informasi yang membantu
mereka dari jawaban pertanyaan, mereka memodifikasi pemahaman mereka
berdasarkan pengetahuan baru, dan perubahan sikap mereka dalam menanggapi
peningkatan pemahaman. teori belajar kognitif pandangan manusia sebagai
"agen goal-directed yang aktif mencari informasi.
Siswa
Memahami Tergantung Pada Apa Yang Dia Tahu
Dalam usaha
mereka untuk memahami bagaimana di dunia bekerja, peserta didik menafsirkan
pengalaman baru berdasarkan apa yang mereka sudah tahu dan percaya. Sebagai
contoh, sering anak-anak tetap percaya bahwa bumi ini datar bahkan setelah guru
menjelaskan bahwa itu adalah sebuah bola. Beberapa anak kemudian menggambar
permukaan datar seperti di dalam atau di atas bola. Mereka beralasan bahwa
orang tidak dapat berjalan di atas bola, dan ide dari permukaan yang datar tadi
anak-anak mengetahui dan memahami ide untuk membantu mereka menjelaskan
bagaimana orang dapat berdiri atau berjalan di permukaan bumi. Contoh ini juga
membantu kita melihat mengapa menjelaskan sering tidak efektif untuk mengubah
pemahaman peserta didik
Membangun
Pembelajar Memahami dari Rekaman
Pelajar
tidak berperilaku seperti tape recorder, merekam dalam ingatan mereka dalam
bentuk di mana itu disajikan segalanya, guru mengatakan kepada mereka atau apa
yang mereka baca. Sebaliknya, mereka menggunakan apa yang telah mereka ketahui
untuk membangun pemahaman tentang apa yang mereka dengar atau membaca yang
masuk akal bagi mereka. Dalam upaya mereka untuk membuat informasi baru
dimengerti, mereka secara dramatis dapat memodifikasi itu, begitu pula
anak-anak yang membayangkan serabi pada bola. Kebanyakan peneliti sekarang
menerima gagasan bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri (greeno et
al,1996).
Definisi
Pembelajaran
Dari
perspektif kognitif, belajar adalah perubahan dalam struktur mantal seseorang
yang atas kapasitas untuk menunjukkan perilaku yang berbeda. Perhatikan kalimat
"menciptakan kapasitas. Dari perspektif kognitif, belajar dapat terjadi
tanpa ada perubahan langsung dalam perilaku, bukti perubahan dalam struktur
mental dapat terjadi dalam beberapa waktu kemudian. "struktur mental"
bahwa perubahan termasuk skema, keyakinan, tujuan, harapan dan komponen
lainnya. Dalam pelajaran david, karena randy misalnya sadar walaupun tentang
kebutuhannya untuk membuat catatan, dan Tanta, Rendy dan Juan membentuk
hubungan, dalam pikiran mereka, menghubungkan informasi dari grafik,
transparansi, dan demonstrasi.
Baik teori
behaviorisme atau kognitif sosial dapat menjelaskan upaya siswa-siswa.
Bagaimana informasi "di kepala pelajar itu" diperoleh, dan bagaimana
disimpan? Kita menjawab pertanyaan-pertanyaan pada bagian berikutnya kita
mengamati pengolahan informasi, salah satu yang pertama dan paling diteliti
secara deskripsi tentang bagaimana orang mengingat (Hunt & Ellis, 1999).
Pengolahan
Informasi
Pengolahan
informasi adalah teori belajar yang menjelaskan bagaimana rangsangan memasukkan
sistem ingatan kita, dipilih dan terorganisir untuk penyimpanan, dan diambil
dari memori (Mayer, 1998a). Teori belajar kognitif yang paling menonjol dari
abad ke-20, ia memiliki implikasi penting untuk mengajar hari ini (Mayer,
1998b).
Sesuai
dengan karakteristik matematika maka belajar matematika lebih cenderung
termasuk ke dalam aliran belajar kognitif yang proses dan hasilnya tidak dapat
dilihat langsung dalam konteks perubahan tingkah laku. Berikut adalah beberapa
teori belajar kognitif menurut beberapa pakar teori belajar kognitif:
* Teori
Belajar Piaget
Jean Piaget
adalah seorang ilmuwan perilaku dari Swiss, ilmuwan yang sangat terkenal dalam
penelitian mengenai perkembangan berpikir khususnya proses berpikir pada anak.
Menurut
Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang
teratur. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur
tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap
sebelumnya. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah:
a. Tahap
Sensori Motor(dari lahir sampai kurang lebih umur 2 tahun)
Dalam dua
tahun pertama kehidupan bayi ini, dia dapat sedikit memahami lingkungannya
dengan jalan melihat, meraba atau memegang, mengecap, mencium dan menggerakan.
Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorik serta motoriknya.
Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini. Anak tersebut
mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi
dirinya. Misalnya dengan menendang-nendang dia tahu bahwa selimutnya akan
bergeser darinya.
b. Tahap
Pra-operasional ( kurang lebih umur 2 tahun hingga 7 tahun)
Dalam tahap
ini sangat menonjol sekali kecenderungan anak-anak itu untuk selalu mengandalkan
dirinya pada persepsinya mengenai realitas. Dengan adanya perkembangan bahasa
dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya. Intelek
anak dibatasi oleh egosentrisnya yaitu ia tidak menyadari orang lain mempunyai
pandangan yang berbeda dengannya.
c. Tahap
Operasi Konkrit (kurang lebih 7 sampai 11 tahun)
Dalam tahap
ini anak-anak sudah mengembangkan pikiran logis. Dalam upaya mengerti tentang
alam sekelilingnya mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada informasi yang
datang dari pancaindra. Anak-anak yang sudah mampu berpikir secara operasi
konkrit sudah menguasai sebuah pelajaran yang penting yaitu bahwa ciri yang
ditangkap oleh pancaindra seperti besar dan bentuk sesuatu, dapat saja berbeda
tanpa harus mempengaruhi misalnya kuantitas. Anak-anak sering kali dapat
mengikuti logika atau penalaran, tetapi jarang mengetahui bila membuat
kesalahan.
d. Tahap
Operasi Formal (kurang lebih umur 11 tahun sampai 15 tahun)
Selama tahap
ini anak sudah mampu berpikir abstrak yaitu berpikir mengenai gagasan. Anak
dengan operasi formal ini sudah dapat memikirkan beberapa alternatif pemecahan
masalah. Mereka dapat mengembangkan hukum-hukum yang berlaku umum dan
pertimbangan ilmiah. Pemikirannya tidak jauh karena selalu terikat kepada hal-hal
yang besifat konkrit, mereka dapat membuat hipotesis dan membuat kaidah
mengenai hal-hal yang bersifat abstrak.
Berdasarkan
uraian diatas, Piaget membagi tahapan perkembangan kemampuan kognitif anak
menjadi empat tahap yang didasarkan pada usia anak tesebut.
* Taxonomy
SOLO
Teori
belajar Piaget memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan teori
pembelajaran kognitif. Hal ini terbukti dengan banyaknya peneliti yang tertarik
melakukan analisis serta memperluas teori tersebut. salah satu kritik yang
cukup tajam terhadap teori Piaget adalah berkenaan dengan asumsi bahwa
pengertian akan suatu struktur yang sama akan diperoleh pada usia yang sama
dalam berbagai domain intelektual. Implikasi dari hal ini adalah ketika seorang
anak sudah dapat mengawetkan besaran suatu unsur dengan mengenali bahwa besaran
dari benda tersebut sama terlepas dari bentuknya anak secara rasional dapat
diduga akan mengawetkan konsep berat, karena struktur antara konsep besaran dan
berat sama. Ternyata bersadar pada studi eksperimental yang dilakukan oleh para
peneliti hal ini tidak sepenuhnya benar. Hal ini dianggap sebagai sebuah
penyimpangan. Penyimpangan yang dimaksud adalah terjadinya perbedaan cara dalam
memperoleh sebuah struktur yang sama oleh seorang individu. Dari beberapa hasil
pengembangan penelitian dalam teori ini ternyata penyimpangan ini lazim terjadi
sebagaimana diungkapkan oleh Biggs dan Collis (1982). Fakta ini memicu sebuah
pengembangan teori dari teori Piaget yang dikenal dengan neo-Piagetian theories.
Biggs dan
Collis adalah peneliti yang turut melakukan dan analisis teori belajar Piaget.
Salah satu isu utama yang dikaji oleh kedua peneliti ini berkaitan dengan
struktur kognitif. Teori mereka dikenal dengan Structure of Observed Learning
Outcomes (SOLO). Biggs dan Collis (1982: 22) membedakan antara “generalized
cognitive structure” atau struktur kognitif umum anak dengan “actual respon”
atau respon langsung anak ketika diberikan perintah-perintah. Mereka menerima
kebeadaan konsep struktur kognitif umum namun mereka menyakini bahwa hal
tersebut tidak dapat diukur langsung sehingga perlu mengacu pada sebuah
“hypothesized cognitive structure” (HCS) atau struktur kognitif hipotesis.
Menurut mereka HCS ini relative lebih stabil dari waktu ke waktu serta bebas
dari pengaruh pembelajaran disaat anak diukur menggunakan taxonomi SOLO dalam
menyelesaikan suatu tugas tertentu. Penekan pada suatu tugas tertentu sangat
penting seperti yang diasumsikan dalam taksonomi SOLO bahwa penampilan
seseorang sangatlah beragam dalam menyelesaikan satu tugas dengan tugas
lainnya, hal ini berkaitan erat dengan logika yang mendasarinya, selanjutnya
asumsi ini juga meliputi penyimpangan yang dalam model ini dikatakan:
Siswa dapat
saja berada pada awal level formal dalam matematika namun berada pada level
awal konkrit dalam sejarah, atau bahkan dapat terjadi, suatu hari siswa berada
pada level formal di matematika namun dilain hari dia masih berada pada level
yang konkrit pada topik yyang berbeda. Hasil observasi seperti ini tidak dapat
mengindikasikan terdapatnya “pertukaran” dalam perkembangan kognitif yang
berlangsung, tetapi sedikit pertukaran terjadi pada konstruksi yang lebih
proximal , pembelajaran, penampilan atau motivasi. Biggs & Collis (1991:60)
Dari uraian
di atas maka dapat dikatakan bahwa teori tersebut lebih menekankan pada
analisis terhadap kualitas respon anak. Untuk melihat respon anak diperlukan
butir-butir rangsangan. Dan butir-butir rangsangan dalam konteks ini tidak
difokuskan untuk melihat kebenaran dari jawaban saja melainkan lebih pada
melihat struktur alamiah dari respon siswa dan perubahannya dari waktu ke
waktu.
Untuk
menjelaskan konsep “pertukaran” yang terjadi dalam pertumbuhan kognitif yang
tidak biasa diantara anak-anak sekolah, Biggs & Collis (1991:
60)menyediakan suatu level tersendiri yang diberi nama “post formal mode”.
Bagaimanapun juga terdapat satu perbedaan penting dari teori yang dikemukakan
Piaget yaitu ketika mode atau level baru mulai muncul, ini tidak akan
menggantikan level yang lama begitu saja melainkan dapat berkembang bersamaan.
Oleh karena itu mode-model tersebut tumbuh sejak lahir hingga dewasa. Level
terakhir adalah batas tertinggi dari proses abstraksi yang dapat ditunjukkan
anak, bukan seluruh penampilan yang harus menyesuaikan dengan level-nya. Secara
khusus, ketika semakin banyak mode yang memungkinkan maka multi-modal
fungsioning menjadi normanya.
Berikut
adalah 5 mode yang diutarakan oleh Biggs dan Collis:
1. Mode
Sensorimotor
Focus
perhatian pada mode ini adalah lingkungan fisik sekitar anak. Anak membangun
kemampuan untuk melakukan koordinasi dan mengatur interaksinya dengan
lingkungan sekitar. Perkembangan yang berkelanjutan pada mode ini ditunjukkan
oleh kegiatan-kegiatan fisik ketika diperolehnya tacit knowledge.
2. Mode
Iconic
Pada mode
ini symbol-simbol dan gambar digunakan untuk merepresentasikan elemen-elemen
yang diperolehnya pada mode sensorimotor. Tanda-tanda tersebut digunakan
sebagai peran pengganti dari komunikasi oral. Cirri-ciri dari anak yang berada
pada mod